Nasional
Home / Nasional / Sinergi Strategis Pertamina dan Badan Gizi Nasional: Ubah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat Hijau

Sinergi Strategis Pertamina dan Badan Gizi Nasional: Ubah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat Hijau

PT Pertamina (Persero) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman yang bertujuan mengembangkan ekosistem energi berkelanjutan
PT Pertamina (Persero) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman yang bertujuan mengembangkan ekosistem energi berkelanjutan

NUANSADIGITAL.COM, Jakarta (8/5) – PT Pertamina (Persero) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman yang bertujuan mengembangkan ekosistem energi berkelanjutan. Sinergi ini difokuskan pada pemanfaatan limbah domestik, khususnya minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), untuk diolah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang dikenal sebagai Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus mengakselerasi target Net Zero Emission (NZE) Indonesia melalui model ekonomi sirkular yang terintegrasi.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu inisiatif pemenuhan gizi terbesar di dunia dengan sasaran mencapai 61,99 juta penerima manfaat. Dalam pandangannya, program ini melampaui sekadar pemberian makanan, karena berfungsi sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Terkait hal tersebut, Dadan menegaskan, “Program ini bukan hanya soal makan bergizi gratis, tetapi merupakan investasi besar untuk masa depan bangsa, membangun generasi unggul, memperkuat ekonomi rakyat, dan menciptakan Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.”

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menekankan bahwa kerja sama ini merupakan manifestasi dari Misi ke-2 Asta Cita yang mendorong kemandirian pangan dan energi secara simultan. Simon menyoroti bagaimana limbah dapur dari puluhan ribu SPPG di seluruh Indonesia dapat diubah menjadi sumber daya strategis. Ia menyatakan, “Hari ini, kita ubah perspektif itu. Kita jadikan limbah sebagai sumber daya. Kita jadikan masalah sebagai solusi. Inilah esensi dari circular economy dan di sinilah peran Pertamina menjadi penting.”

Secara operasional, Pertamina Patra Niaga akan mengimplementasikan teknologi mesin pengumpul UCollect untuk menghimpun minyak jelantah tersebut. Feedstock ini nantinya diproses menjadi SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), serta biogasoline. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menambahkan bahwa UCO memiliki profil emisi rendah yang sangat krusial bagi kepatuhan standar dekarbonisasi global. Agung memaparkan, “Melalui penahapan yang terukur, Pertamina menargetkan pencampuran SAF mulai dari 1% hingga 5% pada 2030 sesuai amanat Pemerintah melalui Kepmen ESDM No. 113/2026.”

Prosesi penandatanganan yang berlangsung di Grha Pertamina, Jakarta, pada 7 Mei 2026 ini turut dihadiri oleh Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan dan jajaran direksi terkait. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah domestik, sekaligus memperkuat hilirisasi industri energi baru terbarukan yang berbasis pada sumber daya lokal yang berkelanjutan. Melalui inisiatif ini, Pertamina membuktikan komitmennya dalam memimpin transisi energi nasional yang inklusif dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.

Standardisasi Mutu Sekolah, Muhammadiyah Balanced Scorecard Resmi Diterapkan di Yogyakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement