Nasional
Home / Nasional / Muktamar Ke-35 NU Siapkan Generasi Digital Native

Muktamar Ke-35 NU Siapkan Generasi Digital Native

Logo muktamar ke 35 NU tahun 2026
Logo muktamar ke 35 NU tahun 2026

NUANSADIGITAL.COMJakarta (24/7) –Nahdlatul Ulama (NU) bersiap memasuki fondasi abad keduanya dengan memberikan perhatian khusus pada penguatan generasi digital native. Pembahasan strategis ini dikonfirmasi akan menjadi salah satu agenda utama dalam Muktamar Ke-35 NU sebagai langkah responsif terhadap tantangan era digital.

Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar Ke-35 NU, Prof Mohammad Nuh, menyampaikan bahwa perhelatan besar ini dirancang untuk melampaui sekadar agenda suksesi kepemimpinan. Menurutnya, Muktamar kali ini harus menjadi pijakan kokoh dalam merumuskan arah pengembangan organisasi untuk seratus tahun ke depan. Ia menekankan pentingnya kesiapan NU menghadapi masa depan yang beririsan langsung dengan era baru.

“Kita ingin Muktamar ini tidak hanya urusan suksesi kepemimpinan, tapi juga NU ke depan karena ini menyangkut 100 tahun, abad kedua, dan eranya beririsan dengan era baru, yaitu era digital,” kata Prof Mohammad Nuh usai rapat SC Muktamar Ke-35 NU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.

Prof Nuh menegaskan bahwa Generasi Z, Generasi Alfa, dan kelompok digital native lainnya akan memegang peranan kunci serta menentukan arah perjalanan organisasi dalam dua dekade mendatang. Kegagalan dalam merencanakan strategi dari sekarang dapat berdampak serius pada relevansi organisasi di masa kini maupun masa depan.

“Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mempersiapkan masa depannya, dia tidak punya masa kini, karena masa depan menjadi masa kini dan masa kini akan menjadi masa lalu,” ujarnya.

Presiden Prabowo Lantik Kepala BGN untuk Program MBG

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa forum Muktamar ini diharapkan sanggup menyiapkan ekosistem komprehensif yang menjawab kebutuhan generasi mendatang. Ekosistem tersebut mencakup budaya digital (digital culture), masyarakat digital (digital society), hingga pemahaman mendalam terhadap perubahan struktur sosial. Menurutnya, NU tidak boleh sekadar hadir secara fisik di ruang digital tanpa memahami dinamika sosial yang melatarbelakanginya.

Kondisi masyarakat saat ini telah mengalami transformasi signifikan dibanding saat NU didirikan pada tahun 1926. Perubahan demografi, pesatnya perkembangan teknologi, serta pergeseran dari literasi fisik menuju literasi digital menuntut organisasi untuk melakukan berbagai penyesuaian strategis. Meskipun zamannya telah berbeda, fondasi nilai dasar organisasi harus tetap terjaga secara konsisten.

“Semuanya sudah beda, semua. Sehingga bagaimana menyambungkan abad pertama itu dengan abad kedua? Menyambungkannya, yang tidak berubah itu ruh-nya,” imbuhnya.

Prof Nuh menutup keterangannya dengan menggarisbawahi bahwa ruh keikhlasan, ketangguhan, dan kemaslahatan harus terus menjadi energi penyambung dari abad pertama menuju abad kedua NU, sehingga peran keagamaan dan kemasyarakatan organisasi tetap berjalan optimal di era modern.

RDPU DPR: DPP LDII Usulkan Tiga Skema Fikih Haji Baru

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement