NUANSADIGITAL.COM, Makkah (21/2) – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah (Menhaj) mempertegas komitmennya dalam memprioritaskan perlindungan bagi jamaah lanjut usia serta jamaah dengan risiko tinggi pada penyelenggaraan Haji 1447 H. Upaya ini dilakukan melalui penguatan standar istithaah kesehatan yang ketat serta optimalisasi skema manajemen mobilitas di Tanah Suci. Hal ini disampaikan dalam forum Saudi–Indonesian Umrah Co Exchange di Makkah (16/02/2026).
Menteri Haji dan Umrah RI, Moch Irfan Yusuf, menegaskan bahwa aspek keselamatan jamaah rentan merupakan prioritas utama yang harus disiapkan secara matang. “Perlindungan jamaah, khususnya lansia dan risti, adalah prioritas utama kami pada penyelenggaraan haji tahun ini,” ujar Menhaj.
Menurut Menhaj, perlindungan bagi jamaah harus diawali sejak dari Tanah Air melalui penguatan istithaah kesehatan yang berfungsi sebagai instrumen keselamatan fisik. Pemerintah memastikan setiap jamaah yang berangkat memiliki kondisi fisik yang siap dan penyakit penyerta yang terkontrol melalui skrining kesehatan yang lebih ketat serta edukasi kebugaran yang lebih intensif.
“Istithaah kesehatan adalah fondasi utama. Kita ingin memastikan jamaah yang berangkat benar-benar siap secara fisik, terkontrol penyakit penyertanya, serta memahami risiko perjalanan ibadah,” lanjut Menhaj.
Selama fase puncak ibadah di Tanah Suci, Indonesia mengandalkan optimalisasi skema Murur dan Tanazul untuk menjaga kondisi fisik jamaah tetap stabil. Skema Murur dirancang agar jamaah lansia dan risti dapat melintas di Muzdalifah tetap berada di dalam bus guna menghindari kelelahan ekstrem, sementara skema Tanazul memberikan opsi bagi jamaah untuk kembali lebih awal ke hotel guna mengurangi kepadatan di Mina.
“Murur dan Tanazul bukan hanya solusi teknis, melainkan bentuk keberpihakan pada jamaah rentan. Prinsipnya, ibadah harus sah sekaligus aman dan manusiawi,” tuturnya.
Selain pengaturan mobilitas, Indonesia juga mendorong penguatan dukungan medis di jalur strategis menuju Jamarat guna mempercepat respons dalam kondisi darurat. Peralihan pendekatan dari reaktif menjadi preventif ini diharapkan menjadi kunci sukses penyelenggaraan haji tahun ini agar angka fatalitas dapat ditekan secara signifikan. “Kita ingin menggeser pendekatan dari reaktif menjadi preventif. Jangan menunggu jamaah sakit, tetapi pastikan mereka tetap sehat selama menjalankan ibadah,” pungkas Menhaj. Dengan sinergi antara kesiapan kesehatan dari dalam negeri serta manajemen lapangan yang taktis, Pemerintah Indonesia optimistis penyelenggaraan Haji 1447 H akan berlangsung lebih tertib dan aman.


Comment