NUANSADIGITAL.COM, Italia (27/10) – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya mengubah paradigma diplomasi global dari sekadar dialog simbolis menjadi aksi kemanusiaan. Gagasan tersebut disampaikan Menag saat berbicara dalam sidang pembukaan Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio bertajuk “Opening Assembly – Unarmed and Disarming Peace” di Assisi, Italia. Langkah ini diambil untuk memastikan hubungan antarumat beragama memberikan dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat di tingkat akar rumput.
Dalam forum yang dihadiri ratusan delegasi dunia tersebut, Menag mengkritik keterbatasan KTT lintas agama tradisional yang sering kali terjebak pada gestur seremonial belaka. Ia menekankan bahwa keharmonisan global membutuhkan tindakan taktis serta gerakan pelestarian lingkungan. “Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas,” tegas Nasaruddin Umar. Ia menambahkan, “Perdamaian sejati menuntut dialog untuk secara aktif ditransformasikan menjadi gerakan pelestarian lingkungan yang langsung meringankan beban masyarakat di akar rumput.”
Lebih lanjut, ia mendesak para pemimpin dunia untuk mengadopsi bahasa agama sebagai instrumen diplomasi strategis dalam hubungan internasional. Menurut Menag, kerangka spiritual mampu meredakan permusuhan psikologis di saat manuver politik dan militer konvensional mengalami jalan buntu. Menag juga memaparkan model pluralisme dan harmoni kehidupan di Indonesia sebagai studi kasus sukses dalam mengelola keberagaman demi menjaga stabilitas serta mempromosikan moderasi beragama di tingkat global.
Gagasan diplomasi praktis yang diusung Menag mendapatkan dukungan kuat dari berbagai pemimpin agama internasional. Ketua Konferensi Waligereja Italia, Kardinal Matteo Zuppi, menyetujui pandangan Menag mengenai pentingnya menghapus pola pikir agresif dan melucuti permusuhan demi martabat manusia. Senada dengan hal tersebut, Rabi Agung Prancis, Haim Korsia, menegaskan bahwa kerja sama dalam proyek kemanusiaan lokal menciptakan fondasi perdamaian yang lebih kokoh dibandingkan sekadar perjanjian politik. Sementara itu, delegasi Kristen Ortodoks Timur dan Ekumenis menyoroti Deklarasi Istiqlal 2024 yang ditandatangani Menag bersama Paus Fransiskus sebagai cetak biru bahwa perbedaan teologis tidak harus berujung pada konflik. Sidang tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan Semangat Assisi 1986 sebagai instrumen praktis diplomasi internasional.


Comment