NUANSADIGITAL.COM, Aceh (19/2) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), memberikan apresiasi mendalam terhadap keteguhan spiritual masyarakat Aceh. Hal ini disampaikannya saat membuka Konferensi Wilayah (Konferwil) XV PWNU Aceh di Aula MPU Aceh, Minggu lalu.
Menurut Gus Yahya, sejarah panjang Aceh yang diwarnai berbagai cobaan—mulai dari konflik bersenjata hingga bencana alam besar—telah membentuk karakter masyarakat yang luar biasa tangguh. Gus Yahya menyebut Aceh sebagai wilayah yang secara konsisten diuji oleh peristiwa besar sejak masa pra-kemerdekaan. Namun, keimanan masyarakatnya terbukti tidak goyah.
Rahasia keteguhan Aceh terletak pada sikap husnuzon (berprasangka baik) kepada Allah SWT. Hal ini menjadi energi moral yang mencegah keputusasaan dan memicu semangat solidaritas sosial.
Mengutip pesan KH Hasyim Asy’ari, Gus Yahya menegaskan bahwa musibah adalah alat ukur keteguhan iman. Ketangguhan spiritual Aceh tercermin dari terjaganya tradisi dayah dan penghormatan tinggi terhadap ulama.
Selain kepada Sang Pencipta, Gus Yahya menekankan pentingnya berprasangka baik kepada sesama manusia dan organisasi (jam’iyah) demi menjaga persatuan serta kedewasaan dalam berdinamika.
“Musibah yang menimpa rakyat Aceh harus disikapi dengan husnuzon kepada Allah SWT. Itulah yang membuat Aceh tetap berdiri kokoh,” tegas Gus Yahya
Gus Yahya optimistis bahwa pengalaman sejarah dan ketangguhan spiritual ini merupakan modal sosial yang berharga bagi Aceh. Dengan tetap memegang teguh jati diri religius, masyarakat Aceh diyakini mampu menghadapi tantangan global di masa depan tanpa kehilangan arah.
Gus Yahya juga menutup sambutannya dengan mengapresiasi peran NU Aceh yang terus konsisten mendampingi masyarakat, baik sebagai penguat spiritual maupun motor penggerak sosial di Serambi Mekkah.


Comment