Daerah Pendidikan
Home / Provinsi / Pendidikan / Standardisasi Mutu Sekolah, Muhammadiyah Balanced Scorecard Resmi Diterapkan di Yogyakarta

Standardisasi Mutu Sekolah, Muhammadiyah Balanced Scorecard Resmi Diterapkan di Yogyakarta

Muhammadiyah Balanced Scorecard Resmi Diterapkan di Yogyakarta
Muhammadiyah Balanced Scorecard Resmi Diterapkan di Yogyakarta

NUANSADIGITAL.COM, Yogyakarta (3/6) – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta secara resmi meluncurkan Muhammadiyah Balanced Scorecard. Peluncuran instrumen pengukuran kinerja strategis ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta guna mendorong tercapainya progresivitas tata kelola sekolah yang lebih terstruktur, transparan, dan terukur secara kuantitatif di lingkungan persyarikatan.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Didik Suhardi, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah inovatif tersebut. Menurutnya, kehadiran instrumen berbasis data kuantitatif ini sangat penting untuk memetakan capaian target lembaga pendidikan secara jelas. Didik menjelaskan bahwa indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator pendidikan Muhammadiyah akan selalu bersandar pada delapan standar pendidikan nasional yang diintegrasikan secara hibrida dengan kurikulum nasional serta kurikulum khas satuan pendidikan Muhammadiyah.

“Ini sangat baik untuk melihat secara kuantitatif sejauh mana keberhasilan dapat dicapai dengan target yang jelas dan terukur. Maka, ketika bicara KPI pendidikan, kita tak lepas dari 8 standar pendidikan nasional, ditambah hibrida kurikulum nasional dan kurikulum satuan pendidikan Muhammadiyah,” jelas Didik.

Kendati demikian, Didik mengingatkan agar pengembangan instrumen kuantitatif ini tidak menggerus nilai-nilai kualitatif yang menjadi kekuatan utama sekolah Muhammadiyah. Ia mencontohkan bahwa pada jenjang sekolah dasar kelas rendah, fokus utama pengukuran terletak pada aspek karakter seperti sopan santun, toleransi, dan kemandirian yang sejatinya sulit dikuantifikasi. Oleh karena itu, Key Performance Indicator tidak boleh dijadikan satu-satunya tolok ukur tunggal yang justru berisiko menghilangkan esensi output sejati dari pendidikan persyarikatan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Ikhwan Ahada, turut menekankan pentingnya menjaga falsafah dasar pendidikan yang diwariskan oleh pendiri gerakan, KH Ahmad Dahlan. Ikhwan menegaskan bahwa pendidikan Islam berkemajuan harus mampu mengombinasikan keunggulan akal budi dengan amal nyata di masyarakat.

Muktamar Ke-35 NU Siapkan Generasi Digital Native

“Mbah Dahlan mengajarkan sekaligus menginspirasi kita semua bahwasannya ilmu harus berlandaskan kepada tauhid dan tidak membuat manusia menjadi sombong. Jadi perlu mengoptimalkan akal budi, mengombinasi ilmu dengan amal. Strong poin kita tetap pada nilai kualitatif itu,” ungkap Ikhwan.

Melalui keselarasan ini, lembaga pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah diharapkan tidak sekadar menjadi tempat transfer pengetahuan akademis, melainkan juga pusat tarbiyah yang membentuk kepribadian, adab, dan moralitas peserta didik. Kehadiran Muhammadiyah Balanced Scorecard diproyeksikan menjadi kompas strategis yang memastikan seluruh proses pembelajaran tetap berorientasi pada teologi Al-Ma’un, yaitu mencetak generasi unggul yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap berkontribusi nyata bagi kemaslahatan umat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement