NUANSADIGITAL.COM, Jakarta (16/4) – Muhammadiyah baru saja menyelenggarakan Learning Event sebagai bentuk refleksi mendalam terhadap respons bencana banjir yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara pada Rabu (15/4). Forum strategis ini bertujuan untuk memperkuat komitmen lintas sektor dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang kini semakin kompleks dan sulit diprediksi secara konvensional.
Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah menegaskan posisi pentingnya dalam arsitektur penanggulangan bencana di Indonesia yang berbasis pada kecepatan aksi dan ketepatan koordinasi lapangan.
Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, mengungkapkan bahwa fenomena banjir di Sumatra sebenarnya telah diprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi pilar utama dalam meminimalisir dampak. Muhammadiyah bergerak lincah dengan mengaktivasi pos koordinasi dari level nasional hingga daerah serta memobilisasi relawan lintas wilayah.
Fokus organisasi tidak hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi meluas hingga memastikan layanan pendidikan tetap berjalan melalui sekolah darurat dan akses kesehatan di daerah terpencil. Budi Setiawan menekankan pentingnya sinergi dengan berbagai mitra internasional dan pemerintah demi efektivitas penyelamatan.
Apresiasi datang dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menganggap Muhammadiyah sebagai mitra strategis yang konsisten. Direktur Mitigasi Bencana BNPB, Zainal Arifin, menyatakan bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab kolektif yang menuntut kolaborasi multipihak.
Zainal menekankan, “Muhammadiyah telah menunjukkan komitmen kuat dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ketangguhan masyarakat.” BNPB juga mendorong agar setiap praktik baik yang dilakukan dalam distribusi logistik didokumentasikan sebagai bahan pembelajaran berkelanjutan bagi bangsa.
Dari sisi kebijakan organisasi, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief, memberikan sorotan tajam terkait urgensi respons terhadap peringatan dini. Ia mengingatkan bahwa data dan prediksi bencana tidak akan berarti jika tidak diikuti dengan langkah preventif yang nyata di lapangan.
Menurutnya, kegagalan dalam merespons sinyal alam dan data ilmiah merupakan risiko kolektif yang harus dihindari. Hilman Latief menegaskan sebuah prinsip penting: “Kita memiliki data, kita memiliki peringatan, tetapi jika tidak ada aksi preventif, maka risiko bencana akan semakin besar. Ini yang harus menjadi perhatian bersama.”
Transformasi dari Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) menjadi Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) menandai pergeseran paradigma Muhammadiyah yang kini lebih berfokus pada ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan. Muhammadiyah berambisi menjadikan pengalaman panjang Indonesia dalam menangani bencana sebagai referensi global, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Kedepannya, organisasi ini berkomitmen untuk membangun model pengurangan risiko bencana yang sistemik, yang mencakup mitigasi hingga pemulihan berbasis pembelajaran agar masyarakat semakin siap menghadapi ketidakpastian iklim di masa depan.


Comment