NUANSADIGITAL.COM (10/2) – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (Ketum DPP LDII), KH Chriswanto Santoso, memberikan penegasan mendalam mengenai peran strategis pers sebagai pilar utama demokrasi dalam momentum peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Beliau menekankan bahwa pers memiliki tanggung jawab besar untuk senantiasa berdiri di atas kepentingan rakyat serta menjaga jarak dari segala bentuk tekanan maupun infiltrasi kepentingan politik praktis. Menurutnya, pers yang sehat adalah institusi yang mampu menyuarakan nurani masyarakat sesuai dengan kondisi nyata di akar rumput, sehingga fungsi kontrol sosial dan edukasi dapat berjalan secara murni tanpa kontaminasi propaganda kekuasaan.
Dalam pandangannya, integritas informasi menjadi kunci utama bagi media arus utama untuk tetap menjadi rujukan di tengah gempuran arus informasi digital. KH Chriswanto mengingatkan bahwa jika pers mulai kehilangan independensinya, maka fungsi fundamentalnya dalam demokrasi akan mengalami kerusakan.
“Pers harus membawa nilai-nilai nurani masyarakat, bukan sekadar framing atau kepentingan tertentu. Informasi yang disampaikan harus jujur dan dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada masyarakat maupun kepada otoritas,” tegas Chriswanto pada Minggu, 8 Februari 2026.

Lebih lanjut, KH Chriswanto juga menyoroti posisi organisasi kemasyarakatan (ormas) sebagai representasi riil aspirasi masyarakat yang seharusnya bersinergi dengan pers dalam menyampaikan fakta lapangan. Di tengah tantangan media sosial yang sering kali memunculkan fenomena hoaks dan kebenaran yang dipelintir, peran media massa menjadi semakin krusial sebagai penjaga kebenaran faktual.
“Media massa harus menjadi rujukan informasi yang valid dan terpercaya. Media tidak boleh terbawa arus framing atau kepentingan ekonomi dan politik yang akhirnya merusak independensi,” tambahnya.
Melalui kemandirian dan kejujuran informasi tersebut, pers diharapkan mampu menjadi katalisator bagi pengambilan keputusan yang tepat demi terwujudnya bangsa yang berdaulat dan kuat.


Comment